Allah Cinta Hati Yang Berkasih Sayang*

Posted on August 6th, 2015 in Islamiah by Nur Hamid Sutanto, S.Kom.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allâh Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.”
(Q.S. Maryam [19] : 96)

Kasih sayang adalah salah satu sifat yang dicintai oleh Allâh Azza wa Jalla. Jika sifat kasih sayang itu melekat pada diri seorang muslim, niscaya Allâh juga sangat mencintainya. Karena ketika hati telah tersentuh oleh sifat kasih sayang ini, hatinya akan menjadi lembut dan dapat mengenal, memuliakan, dan mengagungkan-Nya. Disamping itu, juga tahu bahwa Allâh Maha Pengasih dan juga Maha Penyayang, sehingga dengan hati yang lembut itu akan menyebut asma-Nya, mengagungkan-Nya, taat, dan tunduk kepada-Nya, dan akhirnya mengasihi dan menyayangi makhluk ciptakan Allâh Azza wa Jalla.
Dalam sebuah riwayat, suatu ketika Nabi Muhammad shalallâhu alaihi wa sallam mencium cucu beliau Hasan bin Ali radhiyallâhu ‘anh dan disaaat itu disisi Nabi ada Aqra’ bin Habis yang kemudian berkata kepada Nabi, “Aku mempunyai 10 anak, dan belum pernah aku menciumnya.” Kemudian Nabi pun bersabda, “Orang yang tidak memiliki kasih sayang tidak akan dikasih sayangi.” (H.R. Bukhari Muslim) Dalam riwayat lain disebutkan, “Orang yang tidak memiliki kasih sayang kepada sesama manusia, tidak dikasihi Allâh.”(H.R. Bukhari)
Orang yang tidak memiliki kasih sayang kepada para hamba Allâh, maka Allâh tidak akan memberikan kasih sayang kepadanya. Hal tersebut dapat juga diartikan bahwa orang yang senantiasa berkasih sayang kepada sesama hamba Allâh, Allâh akan mencurahkan kasih sayang-Nya kepadanya. Rasulullah bersabda, “Orang-orang yang memiliki kasih sayang, akan mendapatkan curahan kasih sayang dari Dzat yang Maha Rahman.” (H.R. Abu Dawud, Turmidzi, dan Ahmad).
Hadits tersebut diatas memberikan petunjuk bahwa Allâh menurunkan sifat sifat saling mengasihi dan saling menyayangi kepada setiap manusia, sehingga dapat mengasihi dan menyayangi orang lain. Dengan sebab kasih sayang inilah Allâh kemudian selanjutnya mencurahkan kasih dan sayang-Nya kepadanya.
Orang yang tidak suka mengasihi orang lain, maka Allâh tidak akan mengasihinya. Atau orang yang tidak suka berbuat baik kepada sesama, maka tidak akan ada balasan kebaikan dari Allâh Yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Allâh berfirman, “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (Q.S. al-Rahmân [55]:60).
Atau orang yang tidak mempunyai keimanan, kelak di akhirat tidak akan mendapatkan kasih sayang. Atau orang yang tidak mengasihi dan juga tidak menyayangi dirinya sendiri dengan menjalankan perintah dan meninggalkan larangan Allâh, maka Allâh tidak akan tidak akan mengasihi dan tidak akan menyayanginya. Oleh karena itulah, diri kita sendiri sudah sepantasnya dan sudah seharusnya untuk senantiasa memotifasi diri sendiri untuk selalu berkasih sayang kepada semua ciptaan Allâh.
Jika seseorang tidak mengasihi terhadap yang lain dengan berbagai bentuk perbuatan kebaikan, maka dia tidak akan mendapatkan pahala saat di akhirat nanti. Allâh tidak akan melihat dengan pandangan yang berkasih sayang. Kecuali hanya kepada orang yang di dalam hatinya memiliki rasa kasih dan sayang terhadap yang lain, walaupun dia banyak melakukan amal shalih.
Kasih sayang dapat kita wujudkan dalam bentuk berbuat baik kepada orang lain, baik itu sesama muslim maupun kepada orang non muslim sekalipun. Dengan catatan berbuat baik dalam batasan-batasan tertentu sesuai dengan syariat agama islam. Contoh konkrit yang Allâh perintahkan dalam al-Qur’an adalah dengan menunaikan zakat, infaq, dan juga shadaqah atau amal jariyah. Allâh berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 277).
Allâh memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk menunaikan zakat. Bahakan dalam firman Allâh diatas, zakat diperintahkan sejajar dengan perintah mendirikan sholat. Itu artinya sholat dan zakat adalah fardhu ‘ain, yaitu kewajiban bagi setiap individu yang beragama islam dan beriman. Perintah zakat besar maknanya, salah satunya ada munculnya sifat saling menyayangi, kasih mengasihi, serta berbagi dengan orang lain.
Kasih sayang pada hakikatnya dilakukan tidak hanya kepada manusia saja, namun juga kepada yang lain. Seperti binatang, pepohonan, atau lingkungan. Seperti halnya tidak menyakiti hewan peliharaan, merawat binatang ternak dengan baik, menjaga tanaman atau tumbuh-tumbuhan agar dapat tumbuh dan berkembang biak, menghemat penggunaan air, listrik, dan juga tidak mencemari udara dengan polusi. Perbuatan-perbuatan itulah salah satu perwujudan kasih dan sayang kepada yang lain.
Kasih sayang dalam sebuah keluarga akan menciptakan sebuah keluarga yang sakinah mawaddah warahmah wa rabbun ghafur. Kasih sayang dalam sebuah masyarakat sosial akan mewujudkan tatanan masyarakat yang madani. Dan dalam lingkungan yang lebih luas lagi, yaitu kasih sayang dalam hidup berbangsa dan bernegara akan menciptakan sebuah negara yang gemah ripah loh jinawi. Dan apabila di dalam setiap hati setiap muslim memiliki rasa kasih dan sayang, ukhuwah islamiah bukan menjadi hal yang mustahil akan tercipta di muka bumi Allâh ini.
Dalam hal ini, secara tidak langsung orang-orang yang didalam dirinya terdapat keimanan dan dalam perilakunya senantiasa beramal sholeh akan ditanamkan dalam hatinya masing-masing rasa kasih dan sayang kepada sesama dan yang lain. Allâh berfirman,“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allâh Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.”(Q.S. Maryam [19] : 96).
Dalam diri manusia, terdapat kasih sayang yang bersifat karakter yang telah Allâh tetapkan dari sejak awal pertama kalinya manusia diciptakan. Hal tersebut dapat dirasakan dalam hatinya selalu dihiasi dengan sikap yang lembut dan memiliki empati atau kepedulian kepada sesama. Disamping yang bersifat bawaan sejak lahir atau disebut juga dengan karakter, ada juga kasih sayang yang bersifat kebiasaan. Dapat diartikan bahwasanya kasih dan sayang seseorang terhadap sesama dapat di latih melalui kebiasaan-kebiasaan sehari-hari. Yang tentu saja di lakukan dengan dengan kesungguhan hati yang kemudian dengan berjalannya waktu, kebiasaan-kebiasaan tersebut akan menjadi karakter dari seseorang. Sifat dan sikap tersebut akan terlihat sebagai akhlaq orang tersebut. Akhlaq yang selalu mengasihi dan menyayangi terhadap sesama dan yang lain.
Dan satu hal yang pasti bagi muslim dengan berakhlaq tersebut akan mendapatkan limpahan rahmat, nikmat, dan pahala disisi Allâh. Begitu pula sebaliknya, apabila rasa saling mengasihi dan menyayangi berubah menjadi sikap keras, acuh, dan kejam, pahala akan terhalangi. Pada suatu hari, Rasululllah Muhammad shalallâhu alaihi wa sallam berbicara di mimbarnya: ”Maukah aku kabarkan kepada kalian orang yang paling jahat di antara kalian?” Tentu, ya, Rasul Allâh. ”Yang paling jahat di antara kalian ialah yang makan sendirian, yang memukul orang (budak) yang berbakti kepadanya, dan yang menolak pemberian.” ”Maukah aku beri tahukan yang lebih jahat dari itu? Yang tidak menyelamatkan orang yang tergelincir dan tidak memaafkan orang yang bersalah. Maukah aku beri tahukan orang yang paling jahat dari semuanya itu?” Tentu, ya, Rasul Allâh. ”Yang membenci orang dan orang pun membencinya.”

Kesimpulan
Pada hakikatnya rasa saling mengasihi dan rasa saling menyayangi adalah fitrah setiap manusia normal setiap manusia. Dan setiap manusia dapat memilah dan memilih mana yang baik dan yang buruk untuk hidupnya. Karena Allâh menciptakan manusia dengan karunia berupa akal untuk digunakan sebagai sebuah sistem penunjang keputusan, mana yang terbaik menurut Allâh. Namun selain dikarunia akal, manusia juga diberikan nafsu. Apabila akal pikiran digunakan sebagai referensi menentukan keputusan untuk tidak mengikuti hawa nafsu, maka orang itulah yang berhasil mengendalikan hawa nafsu dengan menggunakan karunia yang Allâh berikan, yaitu akal. Insya Allâh dengan demikian, Allâh ridho dan menyayangi serta mengasihi kita. Dan Allâh akan masukkan orang-orang tersebut kedalam golongan orang-orang yang beriman dan beramal sholeh di surga Allâh, kekal di dalamnya. Seperti firman Allâh, “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya” (Q.S. al-Baqarah [2] : 25). Apakah ada orang yang tidak menginginkan hal tersebut? “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S. al-Rahmân [55] : 23).

*Artikel Diterbitkan di Buletin Al-Rasikh DPPAI Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, versi online kunjungi http://alrasikh.uii.ac.id/2012/03/23/allah-cinta-hati-yang-berkasih-sayang/

Post a comment

*