Kemenangan Butuh Pengorbanan

Posted on August 20th, 2010 in Islamiah by N Hamid Sutanto

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS al-Shaff [61]: 10-13)


Semua orang berharap untuk mendapatkan sukses atau kemenangan (al-falâh) di dalam hidupnya. Manusia akan hidup dalam dua alam, yaitu alam dunia dan alam akhirat. Kemenangan di akhirat dan kemenangan di dunia adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya dapat diibaratkan sisi mata uang yang tidak akan memiliki makna jika salah satu sisi dari mata uang tersebut hilang. Allah SWT berfirman, “Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).”(QS al-Isra’ [17]: 72). Kemenangan bukan sesuatu hal yang datangnya tiba-tiba, akan tetapi sebuah pencapaian yang perlu perencanaan yang matang. Perencanaan yang matang sangat dipengaruhi oleh sejauh mana ketersediaan informasi dalam memprediksi ke depan. Sedangkan masa depan tanpa perencanaan dan ridha Allah adalah sesuatu yang mustahil dan sia-sia untuk mencapai kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat. Untuk itu, kita perlu untuk mengkaji bagaimana kita harus mengatur diri kita agar mendapatkan sukses tersebut.

Pendidikan merupakan alat perubahan yang paling dapat diandalkan sebagai sarana dalam  mencapai kemenangan dunia dan akhirat, karena dalam pendidikan terjadi proses pertukaran informasi, ilmu, dan pengetahuan yang terstruktur dengan baik (sistematis). Allah SWT berfirman, “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”(QS. al-Ra’d [13]:11). Dalam ayat di atas, Allah menerangkan bahwa kita harus berusaha untuk mengubah kehidupan kita sendiri.

Diantara makhluk yang Allah ciptakan, hanya manusia yang dapat mengubah dan menjadi lebih baik. Karena di dalam diri manusia, Allah menganugrahkan akal dan hati, di mana didalamnya terdapat sifat keburukan (fujur) dan sifat kebaikan (taqwa). Hal tersebut difirmankan Allah Azza wa Jalla dalam al-Qur’an yang berbunyi, “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.”(QS. al-Syams [91]: 8). Allah juga berfirman dalam ayat yang lain, “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”(QS. al-Nahl [16]: 78). Ayat di atas memberikan pelajaran serta menegaskan kepada kita bahwa sesungguhnya hakikat penciptaan manusia pada awalnya adalah putih bersih dalam keadaan tidak mengetahui apapun. Kemudian Allah anugerahkan telinga sebagai sarana untuk mendengarkan, mata sebagai sarana melihat, dan hati sebagai sarana untuk merasakan mana yang baik dan buruk dalam perjalanan kehidupan. Ketiganya Allah anugerahkan kepada kita semata-mata agar kita orang yang beriman bersyukur atas segala kenikmatan yang Allah telah berikan mulai dari kita lahir sampai dengan saat ini.

Dalam al-Qur’an Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?,(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.(QS. al-Shaff [61]: 10-11). Petunjuk Allah dalam ayat tersebut di atas adalah kunci utama yang akan menyelamatkan  kita semua dari azab yang pedih, pertama adalah dengan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam ayat yang lain ditegaskan “Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal, (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu,” (QS al-Thalâq[65]:10).

Dalam sebuah kajian yang disampaikan, bahwasanya keimanan itu meliputi tiga hal yang ketiganya saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Pertama adalah lisan, yang merupakan tingkat keimanan yang paling awal. Keimanan yang diucapakan atau dilafalkan secara lisan, seperti mengucapkan dua kalimat syahadat, mengucapkan dzikir, dan lain sebagainya.  Kedua adalah perbuatan, merupakan perwujudan dari keimanan yang terwujudkan dalam tingkah laku dan perbuatan yang sesuai dengan ajaran agama serta norma dan hukum yang berlaku (akhlaqul karimah). Sedang yang ketiga adalah hati, yang merupakan keimanan yang tertanam dan berada serta tertancap kuat di dalam hati. Keimanan yang seperti ini, akan secara otomatis menjadikan seseorang akan dapat juga mempunyai keimanan lewat lisan atau ucapan dan juga sekaligus memiliki keimanan melalui perbuatan atau tingkah laku.

Untuk dapat mencapai tingkatan keimanan tersebut memang tidak dengan serta merta begitu saja muncul. Tetapi seseorang yang ingin mencapainya, harus mempunyai niat dan keinginan serta pengorbanan. Kemenangan di dalam hidup, tidak dapat diperoleh dengan murah, melainkan hanya dengan pengorbanan. Untuk bisa menjadi berilmu, perlu pengorbanan waktu, fikiran, serta segala daya dan upaya untuk memperolehnya. Untuk bisa menjadi orang yang berkecukupan, perlu adanya pengorbanan tenaga, fikiran, waktu untuk mencapainya. Untuk dapat memiliki sesuatu, seperti rumah, sepeda motor, mobil, dan lainnya juga tidak dengan gratis dapat dimiliki, akan tetapi membutuhkan pengorbanan, misalnya sejumlah uang untuk membelinya. Hal itulah yang disebut dengan pengorbanan, baik pengorbanan secara material maupun non material.

Allah SWT berfirman di dalam lanjutan ayat Surat al-Shaff, “Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS al-Shaff [61]: 12-13), Allah bahkan menjanjikan kepada orang-orang yang berkorban dengan iman yang tertanam dihatinya akan mengampuni dosa dan dimasukkan ke dalam surga (jannah) yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Allah Azza wa Jalla juga akan memasukkan ke tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn (jannah ‘adn).

Tujuan utama manusia hidup sekarang ini adalah mendapatkan kebahagiaan di dunia dan juga di akhirat. Mendapatkan keberuntungan yang besar tentu saja apa yang telah Allah janjikan. Dan selain itu, ada lagi karunia yang Allah berikan yaitu pertolongan dan kemenangan yang waktunya sangat dekat. Akan tetapi sekali lagi pertolongan dari Allah membutuhkan pengorbanan dari orang-orang yang di dalam hatinya tertancap iman. Sesungguhnya janji Allah itu pasti adanya. Semoga dapat membawa manfaat. Karena sesungguhnya kebenaran itu hanya milik Allah Azza wa Jalla, Waallahu a’lam.

Nur Hamid Sutanto
Staf Direktorat Organisasi dan SDM Universitas Islam Indonesia

*) Artikel dimuat dalam Buletin Al Rasikh DPPAI Universitas Islam Indonesia Yogyakarta tanggal 18 Juni 2010

Dan dimuat juga dalam versi online http://alrasikh.wordpress.com

2 Responses to 'Kemenangan Butuh Pengorbanan'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'Kemenangan Butuh Pengorbanan'.

  1. Yelhsa said,

    on July 1st, 2011 at 6:43 am

    Super informative wiritng; keep it up.

  2. Hani said,

    on June 11th, 2013 at 4:12 am

    Saya akui, saya dalam waktu yang lama namun itu sukacita lain untuk melihat ini adalah sebuah topik yang penting dan diabaikan oleh begitu banyak , bahkan profesional . Saya berterima kasih untuk membantu membuat orang lebih menyadari masalah yang mungkin .

Post a comment

*